Buku Mendidik dengan Hati menyoroti realitas sekolah dan madrasah hari ini: tekanan akademik, perundungan, kecemasan, masalah relasi, dan penggunaan gawai yang kerap tak terkendali. Wellbeing peserta didik diposisikan sebagai inti pendidikan yang relevan, terukur, dan dapat dikelola, bukan sekadar istilah populer. Bagian awal memaparkan kerangka konseptual wellbeing, dimensinya dalam lingkungan belajar, serta faktor risiko dan pelindung yang membentuk ketahanan anak dan remaja, sehingga sekolah dapat menggeser makna “sukses” dari angka menuju pengalaman belajar yang aman, bermakna, dan menumbuhkan.
Berikutnya, buku ini menghadirkan pendidikan Islam sebagai cahaya penuntun: fitrah, qalb, akal, dan ruh, serta tujuan tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sebagai dasar iklim belajar berorientasi ihsan, rahmah, keadilan, dan amanah. Bab “mendidik dengan hati” menekankan kompetensi pendidik: empati, komunikasi yang memuliakan, regulasi emosi, dan disiplin tanpa mempermalukan, dengan sakinah dan thuma’ninah sebagai orientasi relasi guru–murid di kelas.
Bagian akhir menawarkan strategi implementasi realistis: pembelajaran dan asesmen yang menjaga martabat, diferensiasi yang adil, penguatan keterampilan sosial-emosional dan spiritual (literasi emosi, regulasi diri, resiliensi, refleksi, dzikir), kolaborasi keluarga–komunitas, tata kelola program yang etis, peran BK, penanganan krisis, serta roadmap menghadapi budaya ranking, tekanan ujian, media sosial, dan spiritualitas yang keliru. Dengan intervensi sekolah, buku ini membantu pembaca menerjemahkan teori menjadi kebijakan dan praktik harian.
Hallo 👋
Ada pertanyaan seputar publikasi buku?